Profil

OPINI - Sekolah Orang Tua


OPINI - Sekolah Orang Tua Foto By : (gl) Ilustrasi

Oleh: Rita Ruhita Amd. Kep

BEGITU  banyak masalah besar terjadi karena perilaku anak. Tawuran, penganiayaan, pembunuhan, pencabulan, pemerkosaan, penyalahgunaan narkoba, dan tindakan kriminal lain yang merugikan banyak orang. Semua itu dilakukan oleh manusia, yang dalam pandangan negara, masih tergolong anak-anak. Dan jika kita bicara perilaku anak, maka sudah pasti orang tua adalah pihak yang paling bertanggung jawab. Karena darinya seorang anak lahir, dan dengan usahanya seorang anak tumbuh. Dengan tanggung jawab sebesar dan semulia itu, tentu sangat dibutuhkan pendidikan khusus bagi orang tua.

Kita sudah sering membahas tentang pendidikan anak, sekolah anak, dan banyak hal terkait perkembangan anak. Tentang bagaimana kita menyiapkan generasi penerus bangsa. Tentang persiapan bagi mereka dalam menghadapi tantangan masa depan. Namun seharsnya itu semua tidak melalaikan kita dari satu hal yang jauh lebih penting: pendidikan orang tua. Karena dalam pendidikan orang tua terdapat pendidikan anak.

Sayangnya, pendidikan orang tua ini masih terbatas pada pilihan. Malah, parenting­ banyak dianggap sebagai kegiatan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya, karena untuk menggelar acara parenting memang membutuhkan biaya untuk sewa tempat, bayar narasumber, konsumsi, dan lain sebagainya. Padahal,menjadi orang tua adalah hak dan kewajiban setiap warga negara, hak setiap manusia, miskin ataupun kaya. Kemampuan seseorang menjadi orangtua akan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, karena anak-anak mereka akan bersentuhan dengan masyarakat. Karena itu, semua manusia harus berpengetahuan, berpemahaman, dan berprilaku yang tepat dalam menjalani perannya sebagai orang tua. Sifat pendidikan orang tua yang masih ‘swasta’ inilah yang sepatutnya menjadi ‘negeri’. Menjadi tanggungan jawab negara dalam penyelenggaraannya.

Dengan pentingnya pendidikan orang tua dan besarnya dampak negatif akan kelalaian orang tua, maka sudah sepatutnya negara menyelenggarakan sekolah orang tua. Sekolah ini akan menjadi wadah yang tepat dalam mendidik orang tua sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap anak-anak mereka.

TINGKATAN

Sebagaimana sekolah anak. Sekolah orang tua pun harus memiliki tingkatan kelas.Tidak hanya pendidikan sebelum menikah, tapi juga pendidikan yang terus berjenjang. Tingkatan ini sangat terkait kebutuhan pengetahuan yang juga berkembang seiring perkembangan anak.

Kelas Kehamilan

Sebagaimana tahap pertumbuhan anak yang dimulai dari lahir, maka sekolah orang tua pun dimulai ketika mereka akan memiliki balita. Ketika sang ibu dalam usia kehamilan, maka orang tua wajib mengikuti pendidikan tahap awal ini. Kelas ini akan diisi dengan materi pendidikan dari mulai kewajiban inisiasi dini, kesehatan, asupan gizi, dan perlakuan  khusus pada balita dalam kondisi darurat, dan lain sebagainya.

Pemahaman akan pentingnya tidak merokok di dekat anak juga harus disampaikan sebagai kewajiban bagi para orang tua yang perokok. Jangan sampai ada lagi di kemudian hari, seorang ayah, apalagi ibu, dengan santainya menyebar asap beracun pada anak mereka.

Kelas Sapih

Kelas berikutnya dilaksanakan ketika usia anak menjelang usia disapih, sekitar dua tahun. Dalam tahap ini orang tua sudah harus dibekali pengetahuan tentang komunikasi lanjutan pada anak. Sebagaimana kita tahu, gaya komunikasi orang tua akan mempengaruhi kemampuan komunikasi anak, sekaligus mental anak. Dalam tahap ini orang tua sudah wajib tahu bahwa kata-kata kasar, kotor, makian, adalah ucapan yang pantang diucapkan di depan anak.

Tanggap teknologi juga perlu menjadi materi dalam tahap ini karena bahaya hambatan petumbuhan fisik dan mental yang diakibatkan oleh perangkat teknologi, seperti laptop, komputer tablet, ponsel pintar, internet, televisi. Orang tua mesti sadar bahwa balita harus banyak melakukan aktifitas fisik dibanding hanya menunduk melihat gawai, yang boleh jadi memiliki isi yang tak layak tonton.

Dalam kelas ini juga orang tua sudah harus ditekankan akan pentingnya melatih anak berenang, terkait kondisi geografis Indonesia yang memiliki banyak wilayah peraian: laut, danau, sungai, yang bisa menjadi  ancaman dalam usia bermainnya.

Kelas Sekolah

Tahap ini dimulai ketika akan menjelang usia anak sekolah. Orang tua sudah harus dimutakhirkan lagi pengetahuannya terhadap kondisi anak dalam usia ini. Bagaimana pentingnya asupan fisik dan mental, agar anak siap berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya. Juga tentang cara orang tua merespon komunikasi anak terkait sekolahnya, pelajarannya, guru-gurunya, tradisi-tradisinya.

Tentang bagaimana menjauhkan anak dari membully dan dibully. Tentang bagaimana memberikan pemahaman pada anak bahwa penyebutan nama ayah oleh teman-temannya adalah hal yang harus disikapi biasa saja.

Juga tentang mainan-mainan dan jajanan-jajanan yang ada di sekitar sekolah mereka. Tentang mana yang boleh mereka beli, konsumsi, dan mana yang tidak. Sebagai kita tahu, judi dalam bentuk yang sederhana, seperti tarik tali, ada di sekitar sekolah dasar. Dan makanan yang kebersihan dan bahannya tidak layak pun marak beredar.

Kelas Remaja

Pendidikan orang tua dalam tahap ini dimulai menjelang anak mereka tumbuh menjadi remaja. Sebelum mereka masuk ke dalam fase, yang sering disebut ABG ini, orang tua sudah harus memiliki ‘peta wilayah’ yang akan dimasuki anaknya. Orang tua sudah harus memiliki kemampuan menanggapi bantahan anak-anak mereka. Orang tuasudah harus memiliki kemampuan berargumen, pemahanan psikologi remaja, gaya komunikasi, dan harus terus paham teknologi terkini.

Teknik berinteraksi dengan teman dari anak remaja mereka juga perlu diajarkan. Juga teknik menasehati. Jangan sampai anak remaja kita akan lebih menurut pada teman-temannya dari pada orangtuanya, karena gaya komunikasi kita yang buruk.

Dalam tahap ini juga orang tua sudah harus dibekali cara mengetahui potensi dan cara mengarahkan minta dan bakat anak. Jangan sampai bakat yang ada  sia-sia. Jangan sampai minatnya tidak tersalurkan dengan sempurna.

Ancaman pada masa depan anak diusia remaja yang besar membuat tahapan kelas ini menjadi sangat penting, karena diusia remajalah mereka sudah mulai disuguhi banyak pilihan, baik dan buruk. Diusia ini banyak anak terjerumus kedalam kebiasaan buruk: merokok, penyalahgunaan narkoba, sex bebas, tawuran, dan berfoya-foya. Maka dari itu, sudah seharusnya orang tua serius ketika mengikuti kelas ini.

Kelas Dewasa

Bahkan ketika anak mencapai usia dewasa, orang tua tetap menjadi berperan penting terhadap masa depan anak. Maka, sebelum usia dewasa anaknya tiba, orang tua sudah harus siap menjadi orang tua bagi seorang anak  dewasa. Jangan sampai orang tua terbuai dengan ‘kelulusan’dari tahap sebelumnya, dan malah lalai dalam tahap ini.

Kuliah, kerja, menikah, setidaknya itu yang akan dihadapi seorang anak difase dewasanya. Maka, orang tua harus dibekali pengetahuan tentang kondisi dunia dewasa saat ini dan nanti. Jangan sampai ada anak yang merasa dipaksa dan tidak menikmati pilihan orang tuanya. Tentu membutuhkan teknik komunikasi yang berbeda untuk menyakinkan anak yang, bisa dianggap, matang dalam berpikir. Adu argumen justru sangat mungkin terjadi. Memahami kesimpulan dari pandangan seorang anak yang sudah dewasa juga perlu persiapan. Siap untuk bisa menerima bahwa pendapat anak yang benar bukan perkara yang biasa bagi orang tua yang baru memiliki anak dewasa.

Kelas ini juga memungkinkan para orang tua untuk mendapatkan pemahaman para ahli tentang kemampuan mendidik anak agar kelas tak salah pilih jurusan, tak salah pilih karier, dan tak salah memilih pasangan.

Wisuda

Setiap sekolah harus diakhiri wisuda, meski tak harus memeriahkannya. Maka, wisuda bagi sekolah orang tua ini adalah ketika anak mereka mengikuti sekolah ini.

Peran negara dalam sekolah orang tua ini adalah memastikan bahwa pendidikan bagi orang tua dalam mendidik anak adalah kegiatan yang wajib diikuti oleh warga negara. Contoh praktisnya tak beda dengan seminar-seminar parenting yang sudah ada. Bedanya, ada peran negara di sana. Negara membayar pemateri, menyediakan tempat, mengatur jadwal,  dan yang terpenting: mewajibkanya.

Komentar


Kirim Komentar

-- Signin With --

Most Commented

Mengatasi Krisis Air Bersih

oleh:  DR.HM Harry Mulya Zein (Dosen IPDN Jakarta) Kemarau panjang masih melanda sebagian besar wilayah ...

Berita Terkait