Profil

Mengatasi Krisis Air Bersih


Mengatasi Krisis Air Bersih Foto By : (dg) Masyarakat harus antri untuk dapatkan air bersih

oleh:  DR.HM Harry Mulya Zein (Dosen IPDN Jakarta)

Kemarau panjang masih melanda sebagian besar wilayah Indonesia, tidak terkecuali wilayah DKI Jakarta dan Provinsi Banten. Kemarau panjang yang melanda ini berakibat pada krisis air bersih. Beberapa warga di wilayah BOTABEK mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Kekeringan semakin menjadi sebuah bencana tatkala keberadaan Ruang Terbuka Hijau diabaikan. Proses urbanisasi yang berimbas kepadatan penduduk disertai proses pembangunan yang tidak mengindahkan penghijauan menjadi penyebab terjadinya bencana kekeringan.

Tidak bisa dipungkiri pertumbuhan penduduk menuntut kebutuhan dan penyediaan air bersih yang cukup untuk peningkatkan kualitas hidup, seiring dengan tingkat pertumbuhan budaya manusia dan masyarakat.

Dewasa ini, ketersediaan air bersih umumnya belum sebanding dengan tingkat kebutuhan penduduk. Kondisi ini diperburuk dengan ketersediaan sumber air baku yang makin lama makin menurun. Hal tersebut disebabkan peningkatan aktivitas manusia dalam pembangunan dan perumahan akibat pertumbuhan penduduk yang terus merambah fungsi-fingsi hidrologi di kawasan untuk keperluan permukiman dan kegiatan lainnya.

Konversi lahan menyebabkan terjadinya perubahan fungsi hidrologi laham yang pada akhirnya berdampak pada perubahan keseimbangan tata air. Kondisi di atas akan meningkatkan komponen limpasan air hujan yang jatuh di permukaan tanah dan ini akan menimbulkan genangan atau banjir yang dapat merugikan masyarakat, terganggunya aktivitas produkusi, konflik sosial dan kerugian bagi negara secara keseluruhan.

Arah fenomena perubahan keseimbangan air tersebut adalah air hujan mengalir dengan cepat menuju kawasan-kawasan dataran rendah yang akhirnya terbuang dengan percuma ke laut tanpa dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk yang pada gilirannya nanti, akan kesulitan air bersih pada musim kemarau.

Sebenarnya cukup ironis jika negeri ini terus dilanda krisis air bersih. Padahal Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber-sumber air. Indonesia memiliki 6% persediaan air dunia atau sekitar 21% dari persediaan air di Asia Pasifik, namun pada kenyataannya dari tahun ke tahun Indonesia mengalami krisis air bersih.

Potensi sebagai negara yang kaya air, ternyata tidak mampu menghindarkan Indonesia dari krisis air bersih. Setiap kali musim kemarau tiba berbagai daerah mengalami krisis air. Namun ketika musim hujan tiba, krisis air bersih tetap terjadi karena surplus air yang kerap mengakibatkan banjir (yang pastinya kotor) sehingga sumber air tidak dapat termanfaatkan.

Secara teori, dalam sejarah perencanaan kota, seperti yang ditulis Ebenezer Howard dalam bukunya ”Tomorrow: a Peaceful Part to Social Reform”, menyebut bahwa kota-kota yang asri tidak dibangun berdasarkan sektoral namun secara menyeluruh dan berkelanjutan (sustainable city). Karena itu, penulis berkeyakinan, mengatasi permasalahan kekeringan bukan mengatasi permasalahan sektoran. Mengatasi kekeringan bukan sekadar mengirim mobil tangki berisikan air bersih ke perkampungan masyarakat. Akan tetapi mencakup penataan lingkungan hidup yang sustainable.

Untuk itu, melalui tulisan ini, ada baiknya saya mengajak kepada seluruh stakeholder; aparatur pemeritah, penggiat civil society, LSM, akademisi, jurnalis, dan masyarakat umum untuk turut peduli dan memiliki kesadaran dalam turut serta menata Ruang Terbuka Hijau.

Kesadaran adalah proses yang diawali dari adanya rasa memiliki atau sense of belonging. Rasa memiliki lingkungan sekitar akan memicu rasa tanggung jawab atau sense of responsibility. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menata Ruang Terbuka Hijau menjadi sangat penting dan terus ditumbuhkan di tengah kerasnya kehidupan kota yang bersifat individualistik.

Gerakan kesadaran menata dan turut melestarikan Ruang Terbuka Hijau ini akan menjadi pintu masuk untuk menjadikan Banten, khususnya Kota Tangerang menjadi kota hijau dan bebas dari bencana kekeringan.

Kesadaran ini akan terwujud dalam bentuk tindakan atau action. Tindakan sederhana dengan menanam pohon di perkarangan rumah atau tidak membuang sampah yang mengurangi kesuburan tanah, sehingga tidak bisa ditanami pohon. Andai saja, satu rumah satu pohon, maka saya yakin bisa tertanam jutaan pohon di Banten, khususnya di Kota Tangerang.

Dengan gerakan menanam ini, maka kawasan-kawasan yang tadinya tidak berpohon dan gersang, akan berubah menjadi kawasan yang rimbun pepohonan, asri dan hijau. Gerakan kesadaran juga dapat mempersempit upaya oknum-oknum yang berusaha mengambil lahan atau mengalihfungsikan lahan Ruang Terbuka Hijau.

Langkah selanjutnya adalah memperbanyak sumur resapan. Melalui sumur resapan, air hujan diresapkan ke lapisan tanah yang lebih dalam dan lebih luas sehingga kapasitas resapnya menjadi lebih besar.

Manfaat Sumur Resapan antara lain dapat menampung dan menahan air hujan baik yang melalui atap rumah maupun yang langsung ke tanah sehingga tidak langsung keluar dari pekarangan rumah, tetapi mengisi kembali air tanah dangkal sebagai sumber air bersih. Sumur resapan dapat dibuat di halaman rumah, kantor, sekolah, pasar, kebun, hutan kota, dan sebagainya serta tidak memerlukan lahan yang luas dan tidak banyak menggangu keperluan lain.

Terakhir manusia selaku khalifah di muka bumi, berkewajiban menata alam lingkungan anugerah Ilahi menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi masyarakat/umat manusia melalui upaya manajemen pembangunan perkotaan dan manajemen lingkungan, termasuk sungai. Jika tidak dari sekarang, kapan lagi. 

Komentar


Kirim Komentar

-- Signin With --

    ...

    morryhudson1 Senin, 20 Oktober 2014 07:49:25

    wiihhh.....mulai beraksi


Most Commented

Mengatasi Krisis Air Bersih

oleh:  DR.HM Harry Mulya Zein (Dosen IPDN Jakarta) Kemarau panjang masih melanda sebagian besar wilayah ...

Berita Terkait