Jelang Ramadhan, Tahu dan Tempe Sepi Peminat. Kok Bisa ?

Ketua Pusat Koperasi Tahu dan Tempe (Puskopti) DKI Jakarta, memprediksi akan terjadi penurunan penjualan tahu dan tempe sebanyak 50% saat Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini, Kok bisa ?

Jelang Ramadhan, Tahu dan Tempe Sepi Peminat. Kok Bisa ?
Gambar dilansir dari : vibiznews

Cahaya.co - Ketua Pusat Koperasi Tahu dan Tempe (Puskopti) DKI Jakarta, Sutaryo telah memprediksi bahwa akan terjadi penurunan penjualan tahu dan tempe. Penurunan ini diperkirakan sebanyak 50% saat Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini.

Penyebab penurunan penjualan karena konsumsi tahu dan tempe pada hari besar umat muslim juga menurun. Lebih banyak kaum muslim di Indonesia akan menggunakan bahan selain tahu dan tempe.

“Kedelai indikasinya tetap naik, tapi pasar tahu dan tempe sepi, puasa sepi sampai 50 persen” katanya.

Keadaan ini membuat para pengrajin tempe dan tahu harus memutar otak lebih jauh lagi. Guna untuk menyiasati penurunan permintaan pasar.

Alih-alih melakukan penyiasatan para pengrajin malah lebih memilih mengecilakn ukuran, tentu untuk menekan biaya produksi.

Tak salah memang, bayangkan saja dengan harga kedelai yang naik menjadi Rp 10 ribu per kilogram. Sedangkan pada awal tahun lalu sebesar Rp 7 ribu per kilogram.

Kenaikan ini tentu saja akan membuat para pengrajin teriak, apalagi jika permintaan yang semakin turun.

Diperkirakan permintaan tahu dan tempe akan normal kembali pada pertengahan syawwal. Sekitar 15 Syawal harga tempe dan tahu akan mulai normal kembali.

Sumber: megapolitan.kompas.com

Segala siasat yang akan digunakan untuk mendapatkan keuntungan pun dilakukan setiap pengrajin. Seperti yang sudah disampaikan di atas tadi, mengurangi ukuran menjadi solusinya.

Namun jika hal ini terus terjadi maka para konsumen yang akan gentian teriak. Dengan harga yang sama, tapi ukuran yan didapatkan berbeda seperti biasanya. Tentu akan menjadi “bagai memakan buah simalakama”, bagi para pengrajin tahu dan tempe.

Dilain sisi, pemerintah atau lebih tepatnya Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, bapak Syailendra juga angkat bicara. Beliau mengatakan bahwa pemerintah akan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan.

Kerja sama ini bertujuan untuk menjaga harga kedelai impor tetap sama seperti bulan lalu. Sehingga semua berjalan dengan normalnya.

Mungkin ini akan menjadi kabar gembira untuk para pengrajin tahu dan tempe. Jika normalisasi harga kedelai impor benar dilakukan dan terjadi, maka para pengrajin tidak perlu lagi memutar otak dan mengencangkan ikat pinggang terlalu erat.

Selain itu Kemendag juga menambahkan jika stok kedelai akan cukup untuk persediaan bulan Maret 2021, walaupun harga kedelai naik di seluruh dunia.

Dengan jumlah tersebut maka kebutuhan industri tahu dan tempe akan terpenuhi sehingga harga akan tetap stabil.

Uraian dari pemerintah ini bisa menenangkan hati para pengrajin, sehingga produksi akan bisa terus dilakukan