Analisa Politik Wacana Presiden Tiga Periode

Isu presiden tiga periode beredar, banyak analis berpendapat. Nah berikut beberapa pendapat analis tersebut !

Analisa Politik Wacana Presiden Tiga Periode
Gambar dilansir dari : cnnindonesia

Cahaya.co - Banyak kabar memberitakan tentang wacana presiden tiga periode. Hal ini dimulai dari opini dari Amien Rais, yang mensinyalir adanya upaya untuk menambah periode presiden.

Kabar ini tentu saja bertentangan dengan UUD 1945 yang menyebutkan presiden hanya mampu menjabat maksimal 2 periode.

Belum diketahui apa maksud Amien Rais tentang penambahan masa periode Presiden ini. Sampai saat ini pun belum ada pihak yang secara lugas ingin mengamandemen UUD 1945.

Dari kabar sudah beredar tersebut, pihak partai PKS dan Demokrat yang berada diluar kubu Jokowi-Ma’ruf menolak wacana ini. Tapi, Waketum PKB Jazilul Fawaid memberikan dukungan jika wacana tersebut benar terjadi.

Analis pilit Exposit Strategic, Arif Susanto menegaskan banyak bahaya yang terjadi jika presiden menjabat selama tiga periode. Tak sepatutnya ada amandemen UUD 1945 hanya untuk mengubah masa jabatan presiden ini.

“Enggak ada untungnya, kita lihat pengalaman Indonesia,” kata Arif.

Kepemimpinan yang berkepanjangan akan menghambat regenerasi dalam dunia politik. Dengan begitu maka peran partai politik yang seharusnya melahirkan tokoh untuk memimpin terhambat. Pendapat ini disampaikan langsung oleh Arif Susanto.

“Kalau enggak, nanti terbalik, parpol yang adalah sebuah organisasi yang bergantung kepada person. Kan aneh kalau person lebih besar dari pada organisasi. Mestinya partai melahirkan tokoh, kita suka terbalik,” tambahnya.

Jika dilihat kembali, sama halnya Soekarno dan Soeharto dulu, parpol akan sulit dan butuh waktu yang lama untuk mendapatkan tokoh baru. Banyak yang tau jika kedua presiden tersebut terlalu lama menjadi presiden dan berada di puncak pimpinan.

Arif juga mengatakan jika pemimpin terlalu lama menjabat maka akan lebih berpotensi untuk bertindak koruptif. Akan banyak hegemoni yang semakin besar, dilain sisi pengawasan akan semakin susah.

Gambar dilansir dari : cnbcindonesia.com

Analisa lain dipaparkan oleh Ujang Komarudin, sosok pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia. Dirinya meminta unsur masyarakat dan pembuat kebijakan untuk menolak dengan tegas jika wacana ini benar dilakukan.

Dirinya berpendapat jika kekuasaan berkepanjangan akan memiliki dampak buruk. Seperti korupsi yang merajalela, sehingga berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jujur saja, bangsa dan negara ini tidak butuh itu. Oleh karena itu, rakyat pasti akan marah dan menolak wacana ini,” ucapnya.

Ujang menduga jika ada segelintir orang dengan jabatan dan kekuasaan yang habis berbarengan dengan periode presiden, maka itulah dalang dibalik wacana tersebut.

“Ini wacana yang dilontarkan orang yang enggak bertanggung jawab, mereka yang post power syndrome, mereka yang memiliki jabatan sudah 10 tahun, artinya pada 2024 sudah habis jabatan,” tambahnya.

Cukup keras memang, dirinya juga menyinggung peristiwa panas yang terjadi pada partai Demokrat. Menurutnya, ada indikasi meloloskan wacana presiden tiga periode dengan upaya untuk menghilangkan pihak oposisi.

Semua analisa ini tentu saja belum pasti terjadi. Bagi kamu sendiri, setujukah dengan tiga periode ?

(Editor : Hendra Napitupulu / Writer : Roiyhan Adinegara).